Ragam
Beranda » Antrean BBM di SPBU Kampal Mengular, Satgas Soroti Pola Distribusi

Antrean BBM di SPBU Kampal Mengular, Satgas Soroti Pola Distribusi

PARIGI MOUTONG, Toraranga.com – Antrean kendaraan yang mengular hingga ke badan jalan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kampal, Kabupaten Parigi Moutong, memicu keresahan warga. Satuan Tugas (Satgas) Bahan Bakar Minyak (BBM) setempat menilai persoalan tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan ketersediaan stok, melainkan juga pola distribusi dan lonjakan permintaan.

Ketua Satgas BBM Kabupaten Parigi Moutong, Ismet Ibrahim, mengatakan hasil peninjauan lapangan bersama unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian menunjukkan bahwa stok BBM sebenarnya masih mencukupi. Namun, pola pengiriman dinilai perlu dievaluasi untuk mengurangi antrean yang terjadi di SPBU.

Ismet menjelaskan, satu mobil tangki berkapasitas 16 ton selama ini memuat dua jenis BBM, masing-masing 8 ton solar dan 8 ton pertalite. Menurut dia, pengiriman dengan pembagian muatan tersebut perlu dipertimbangkan kembali agar pasokan setiap jenis BBM dapat diterima dalam jumlah lebih besar sekaligus.

“Seharusnya biar tidak menimbulkan antrean, kalau bisa satu truk itu 16 ton di drop sekaligus,” ujar Ismet saat wawancara di SPBU Kampal, Rabu, 21 Oktober 2026.

Satgas telah berkoordinasi dengan PT Pertamina Patra Niaga di Donggala agar pola pengiriman BBM dapat disesuaikan. Ismet berharap pengiriman dengan muatan penuh untuk satu jenis BBM dapat membantu mengurangi antrean dan meredam keresahan masyarakat.

FKPP Parigi Moutong Ajukan Enam Program untuk Penguatan Pesantren

Selain persoalan distribusi, Satgas BBM menemukan adanya kenaikan harga BBM yang dijual melalui pengecer. Berdasarkan temuan di lapangan, harga BBM dalam botol putih yang semula Rp13 ribu naik menjadi Rp15 ribu. Sementara itu, BBM dalam botol kemasan besar bekas air mineral yang sebelumnya dijual Rp20 ribu kini mencapai Rp30 ribu.

“Kami sudah himbau kepada pengusaha atau pengecer-pengecer yang ada, agar mereka bisa mengikuti apa yang kami arahkan,” kata Ismet.

Ismet mengatakan Satgas telah mencatat nama dan alamat pengecer yang diduga menjual BBM di atas harga standar yang disepakati. Jika pelanggaran masih ditemukan, Satgas berencana mengambil tindakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang minyak dan gas bumi serta menyerahkan penanganannya kepada aparat penegak hukum.

Satgas juga berencana memanggil para pengawas SPBU dari wilayah Tomoli hingga Sausu untuk mengikuti rapat evaluasi. Pertemuan tersebut akan membahas persoalan distribusi dan langkah yang diperlukan untuk mengantisipasi antrean BBM di wilayah Parigi Moutong.

Di sisi lain, Pengawas SPBU Kampal, Julkifli, mengatakan pasokan BBM yang diterima SPBU selama ini berjalan normal. Ia menduga lonjakan antrean terjadi secara tiba-tiba, meski stok yang tersedia menurut perhitungannya masih dalam kondisi normal.

Erwin Burase Siapkan Rembuk Santri, Narkoba Jadi Salah Satu Bahasan

Julkifli menjelaskan, pengiriman dari depot membutuhkan waktu tempuh hingga lima jam. Keterlambatan pasokan dari Depot Donggala juga menjadi salah satu kendala dalam proses penyaluran BBM ke SPBU.

Menurut Julkifli, pola penyaluran kini telah diubah. Pertalite dikirim lebih dahulu sebanyak 16 ton pada siang hari, sedangkan pasokan solar menyusul pada malam hari. SPBU Kampal juga menunggu perbaikan mesin dispenser Pertamax yang sempat mengalami gangguan agar layanan tersebut dapat kembali digunakan sebagai alternatif bagi pengendara.

“Entah isu apa yang beredar di luar yang menimbulkan kepanikan masyarakat sampai antrean tiba-tiba membludak. Padahal kan kalau kita hitungannya stok, normal,” ujar Julkifli.

Laporan : Ois Bakri**

Kejar Eliminasi TBC 2030, Desa dan Lintas Sektor Diminta Bergerak

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *