Apel yang dipimpin Bupati Parigi Moutong H. Erwin Burase tersebut berlangsung di Markas Yonif TP 918, Desa Labuan, Kecamatan Moutong. Kegiatan itu melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, relawan, tenaga kesehatan, Linmas, Satpol PP, Tagana, PMI, serta unsur terkait lainnya.
“Apel siaga pada hari ini merupakan bagian momentum penting dari komitmen pemerintah daerah Kabupaten Parigi Moutong dalam meningkatkan kesiapsiagaan daerah menghadapi musim bencana, khususnya bencana hutan dan lahan,” kata Erwin.
Ia mengatakan kondisi cuaca dan musim kemarau dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kekeringan juga berpotensi menyebabkan kekurangan air bagi masyarakat, terutama untuk kebutuhan pertanian, peternakan, serta berbagai aktivitas sosial dan ekonomi.
Karena itu, kata Erwin, ancaman bencana tidak boleh hanya dihadapi dengan tindakan reaktif. Kesiapsiagaan harus dibangun secara terencana, sistematis, terpadu, dan berkelanjutan.
“Kesiapan dan pelaksanaan apel siaga yang kita laksanakan dan kita saksikan bersama hari ini harus dimaknai sebagai bentuk kesiapan nyata seluruh unsur dalam menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi,” ujarnya.
Erwin menekankan pencegahan dan deteksi dini harus menjadi perhatian utama dalam menghadapi ancaman karhutla. Menurut dia, sinergi antara TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, dunia usaha, relawan, hingga masyarakat perlu terus diperkuat.
Ia juga menjelaskan kondisi cuaca di Parigi Moutong memiliki karakter berbeda antara wilayah selatan dan utara. Wilayah Parigi hingga Kasimbar masih relatif sering diguyur hujan. Namun, kewaspadaan terhadap karhutla tetap diperlukan di wilayah lainnya.
Menurut Erwin, kondisi tersebut dipengaruhi fenomena belokan arah angin di wilayah Parigi Moutong yang menyebabkan perlambatan angin sehingga meningkatkan kelembapan dan pembentukan awan di sejumlah wilayah.
Dalam kesempatan itu, Erwin mengapresiasi respons cepat jajaran Yonif TP 918 dalam menangani sejumlah kejadian kebakaran sehingga api tidak meluas.
“Begitu ada kejadian, masyarakat langsung melaporkan dan ditangani dengan cepat. Alhamdulillah, kita terselamatkan dengan bencana kebakaran yang lebih luas,” katanya.
Ia meminta komunikasi antara masyarakat, pemerintah desa, kecamatan, pemerintah kabupaten, dan jajaran batalyon terus dilakukan agar setiap kejadian dapat segera ditangani.
Selain kesiapan personel, Erwin meminta pengecekan menyeluruh terhadap kendaraan operasional, mesin pemadam dan pompa air, selang, alat komunikasi, perlengkapan keselamatan, serta peralatan pendukung lainnya.
Menurut dia, kesiapan peralatan harus dibarengi pelatihan dan penerapan prosedur keselamatan. Personel tidak boleh hanya berfokus memadamkan api ketika kebakaran terjadi, tetapi juga harus memahami langkah pencegahan agar risiko dapat ditekan.
“Jangan terlalu semangat kita untuk mematikan api apabila terjadi kebakaran, tapi kita lupa untuk mempersiapkan, mencegah. Sehingga jangan sampai kita sendiri yang menjadi korban,” tegas Erwin.
Ia menambahkan keberanian dalam menjalankan tugas harus diimbangi dengan kesabaran, perhitungan, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
“Keberanian dalam menjalankan tugas tentu harus senantiasa diimbangi dengan kesabaran, perhitungan, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan,” ujarnya.
Erwin berharap seluruh unsur yang terlibat dalam penanggulangan karhutla dan kekeringan dapat menjalankan tugas dengan mengedepankan kesiapsiagaan, pencegahan, dan keselamatan.
“Selamat bertugas, semoga sukses, dan kembali dengan selamat,” pungkasnya.
Laporan : Ariyanto**


Komentar