Ekonomi
Beranda » Pemkab Parimo Siapkan IPRO Sapi Perah dan Kelapa Dalam untuk Forum Investasi Nasional

Pemkab Parimo Siapkan IPRO Sapi Perah dan Kelapa Dalam untuk Forum Investasi Nasional

Plt. Kepala Dinas PMPTSP Parigi Moutong, Moko Ariyanto, S.H. Foto : Ridho

PARIGI MOUTONG, Toraranga.com – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menyiapkan sejumlah potensi daerah untuk ditawarkan kepada investor melalui Investment Project to Offer (IPRO).

Dari sejumlah potensi yang telah dipetakan, dua produk saat ini telah memiliki IPRO, yakni sapi perah dan kelapa dalam. Kedua produk tersebut akan mengikuti proses kurasi secara nasional melalui Bank Indonesia dan Kementerian Investasi, Hilirisasi dan BKPM.

Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Parigi Moutong, Moko Ariyanto, mengatakan penyusunan IPRO merupakan bagian dari upaya memperkuat sinergi antarlembaga sekaligus memberikan kepastian kepada investor.

“Urgensi pelaksanaan rapat hari ini adalah dukungan sinergitas dan kepastian terkait investasi. Beberapa waktu lalu, kami telah melakukan penyusunan Investment Project to Offer (IPRO) yang merupakan satu paket yang memuat produk-produk unggulan yang kami duplikasi dari peta potensi yang telah disusun Bappelitbangda Parimo bekerja sama dengan Untad Palu dan diterbitkan pada 2025,” kata Moko dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Teknis Peluang Investasi Daerah serta Pengoptimalan Sumber Daya Alam di Ruang Rapat Bupati Parimo, Kamis, 17 September 2026.

Moko mengatakan peta potensi yang disusun pemerintah daerah mencakup sejumlah sektor, antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan dan peternakan.
Pada sektor tanaman pangan, beras memiliki nilai LCA 2,35. Sementara itu, bawang merah pada sektor hortikultura memiliki nilai LCA 4,44 dan cabai 2,54.

Tekan Kasus TBC Hingga Pelosok, Desa Kayuboko Jadi Desa Siaga Tuberkulosis

Sektor perkebunan mencakup kelapa dalam dengan nilai LCA 1,23 dan cengkeh 1,15. Pada sektor perikanan, produk perikanan memiliki nilai 2,16 dan cakalang 1,27. Adapun sektor peternakan memiliki produk sapi perah dengan nilai LCA 1,34.
Menurut Moko, peta potensi tersebut menjadi salah satu dasar dalam menyusun produk investasi yang siap ditawarkan melalui IPRO.

“IPRO ini merupakan satu paket tentang satu produk yang akan ditawarkan untuk investasi ke investor. IPRO yang keluar itu baru dua, yakni sapi perah dan kelapa dalam,” ujarnya.

Ia mengatakan kedua produk tersebut telah diikutkan dalam proses kurasi secara nasional melalui Bank Indonesia dan Kementerian Investasi, Hilirisasi dan BKPM.

“Alhamdulillah untuk di Sulawesi Tengah, Kabupaten Parimo menjadi yang pertama memiliki IPRO,” kata Moko.

Jika tidak ada perubahan, sapi perah dan kelapa dalam akan ditampilkan dalam forum investasi nasional di Jakarta pada 28 Oktober 2026.

Resmi Dilantik, Kadis Kesehatan Parimo Geber Percepatan Eliminasi TBC

“Sehingga secara otomatis Kabupaten Parimo akan diikutkan dalam kurasi tersebut. Bahkan, jika tidak ada halangan, pada 28 Oktober 2026 akan ditampilkan dalam forum investasi nasional yang akan dilaksanakan di Jakarta,” jelasnya.

Moko mengatakan Rakor Teknis Peluang Investasi Daerah digelar untuk memperoleh dukungan dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait terhadap program investasi yang telah disiapkan.

Menurut dia, setiap produk yang ditawarkan kepada investor harus memiliki skema yang jelas, termasuk produk, kuantitas dan lokasi. Kawasan yang masuk dalam proyek investasi juga harus dipastikan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Ia meminta Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPRP) Parimo memastikan lokasi proyek investasi telah terintegrasi dalam RTRW.

“Sehingga ketika mengurus izin melalui aplikasi OSS tidak akan terkendala,” katanya.

Papan Digital Masuk Sekolah, Parigi Moutong Hadapi Kendala Internet dan Keamanan

Moko mengatakan kejelasan informasi menjadi salah satu syarat penting agar produk investasi dapat ditawarkan kepada calon investor. Informasi tersebut meliputi keterangan produk, peta, titik koordinat, kesediaan serta keberlanjutan produk.

“Produknya ada, keterangan sudah jelas, petanya, titik koordinat dan tentunya terkait kesediaan serta keberlanjutan. Karena salah satu yang menjadi entry point bagi investor, selain kepastian dan keamanan, tentu adanya keberlanjutan produk, sehingga mereka tidak ragu melakukan investasi,” ujarnya.

DPMPTSP, kata Moko, berperan memfasilitasi proses investasi karena menjadi pintu utama pelayanan perizinan investasi di daerah. Bidang promosi DPMPTSP nantinya mengunggah produk unggulan dari setiap OPD.

“Kalau sudah di-upload, tapi secara legalitas maupun syarat lainnya tidak terpenuhi, jelas tertolak, makanya kami meminta penguatan itu,” tegasnya.

Moko berharap penyusunan IPRO menjadi langkah awal untuk memperkuat iklim investasi di Parigi Moutong dan menarik lebih banyak investor ke daerah tersebut.

“Dengan harapan, Kabupaten Parimo menjadi taman investasi bagi para investor. Jadi ini merupakan langkah awal untuk iklim investasi di Kabupaten Parimo,” pungkasnya.

Laporan : Jangs Labrie**

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *